Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Wasiat

1312945325937759971
Kotak hitam, kusam dan berdebu yang sengaja dibawakan ibunya karena permintaannya, ibunya juga baru pertama kali melihat buku tersebut dan belum pernah membacanya. Hanya tiga tahun sekali dibukanya kotak itu. Buku harian berwarna biru dengan hiasan bunga-bunga berwarna kuning, terdapat huruf latin yang ditulis anak kecil namun indah,Kanaya. Dia beranikan diri untuk membuka buku harian yang hanya dia buka disaat dia merasakan sakit. Anehnya, di buku tersebut hanya berisi beberapa lembar tulisan, yang tiap lembarnya tulisan memmpunyai coretan yang semakin lama semakin indah.
Tulisan lembar pertamanya dia buka kembali dan membacanya…
9 Agustus 1995
Tuhan…
Saya Kanaya, umur 8 tahun, lahir di Semarang, 8 januari 1987. Kelas 2 SD.
Ini buku harian pertama.
Saya mau curhat, hari ini saya sedang sakit. Sudah satu bulan tidak berangkat sekolah. Badan saya lemas, lesu pusing. Ayah dan ibu selalu menangis memandangi saya. Saya sakit apa ya Tuhan? Apa saya akan mati? Katanya mati enak, kita bisa memakai gaun putih dan punya sayap.tidak merasa lapar dan haus.
Kalau saya mati saya nitip:
1. Ayah dan ibu tidak boleh menangis
2. Adeku nakal, semoga dia tidak nakal
3. Jaga ikan arwana saya, ikan itu makannya harus jangkrik yang kecil, selain itu dia tidak suka
4. Semoga rumah saya bisa dibangun dan tidak rusak lagi
Saya ingin itu Tuhan. Nanti saya menulis lagi kalau saya hidup 3 tahun lagi.
Ttd
Kanaya Dewanti
Gadis itu tersenyum sendiri melihat tulisannya yang enam belas tahu silam. Dia teringat waktu itu Ayah dan ibunya menemaninnya setiap hari di bangsal putih yang sekamarnya untuk delapan orang. Dulu dia berfikir setelah pulang dari rumah sakit dia akan segera meninggal.
Dibukanya kembali lembar, demi lembar berikutnya. Tak terasa air matanya mengalir dengan deras dan tertunduk membaca sendiri buku hariannya itu. Semakin dewasa dia semakin dalam mendalami makna dari kematian. Kesepian, kesedihan dan kehilangan yang akan ditorehkan untuk orang terdekatnya.
Lalu dia beranikan diri untuk menulis wasiat selanjutnya.
Semarang, 9 agustus 2011
Tuhan, hari ini umurku sudah 24 tahun. Banyak hal yang terjadi pada hamba di tiga tahun terakhir ini. Perasaan senang dan duka becampur lebur menjadi satu. Berat bagi hamba menjalani kehidupan pada bulan-bulan terakhir ini. Tidak pernah aku bayangkan hidupku akan menjadi seperti ini. Tapi banyak syukur yang hamba bisa ucapkan kepadaMu Tuhan..
Setengah nafas ini tidak tahu kapan berakhir, maaf untuk seseorang atau beberapa orang yang merasa tersakiti olehku. Aku ikhlaskan semua yang terjadi padaku. Aku lebur kebencianku di hari ini. Aku lebur lara hatiku di hari ini. Aku lebur semua kenangan yang tidak mengenakkan hari ini.
Mungkin hanya inilah yang hamba bisa utarakan di ramadhanmu, di waktu terakhirku.
Kanaya D
Dipeluknya buku tersebut. Terpejam sebentar mengingat nama-nama orang yang telah hadir dalam kehidupannya lalu tersenyum kecil… tertidur dalam rebahan terakhirnya.
Selanjutnya...

Cintamu Cap Tai Kebo



Kadang ada hal yang tidak bisa di bicarakan, aku diam bukan berarti aku bisu. Aku diam bukan berarti aku tuli atas semua perkataanmu. Aku punya rasa.... Aku punya akal.. Aku berusaha memahamimu dan kau tidak sabar untuk memahaminya... Aku mencari waktu...


Semuaya sudah hancur. Tadi kau bilang "padahal aku punya banyak mimpi denganmu" dan dengan emosimu sendiri kau hancurkan semuanya... Nikmatilah keputusanmu sekarang...!


Puas, kan?


Selamat!
Tak ku sangka "Cintamu Cap Tai Kebo"
Selanjutnya...

Bukan Mereka



Bersolek, bergaun indah, bermuka centil manja.... itu bukanlah aku tapi mereka
Bertutur kata lembut, sambil tersenyum malu saat digoda.... itu bukanlah aku tapi mereka
Menurut semua perkataan suami dan menangis dalam hati... itu bukanlah aku tapi mereka


Tahukah kau? aku ingin menjadi aku bukan seperti kamu, dia atau mereka....


Tahukah kau?aku meresa terteka atas berjuta perintah dan laranganmu....


Telah lelah ku menjadi kerbau penurut...
Beginilah aku....
Karena aku, bukan mereka





Selanjutnya...

Bernafaslah untukku





Sayang....
Kita semua tahu, kehidupan, kematian, kelahiran adalah misterinya...Kenapa kita harus bingung memikirkan kapan kita mati?


Sayang...
Tetaplah tersenyum untukku walaupun kau disana badanmu nyeri akibat ribuan jarum keluar masuk peredaran darahmu, dan muak dengan bau menyengat obat-obatan...Tegarlah sayangku....


Renato Daniel Victory tetaplah bernafas dan semangat untukku....\





Selanjutnya...

Di Maya Ada Cinta


Dalam sebuah penelitian (Jackson, 2001) ditemukan bahwa seseorang (khususnya remaja) cenderung jatuh cinta dengan orang yang sudah dikenal dengan baik, seperti teman sekolah, teman bermain dan tetangga. Kini dengan hadirnya internet, interaksi seseorang cenderung bervariasi. Yang biasanya berkenalan harus secara fisik (ketemu di sekolah, di jalan, di bus, atau di acara-acara tertentu), kini setelah adanya internet seseorang dengan gampang berkenalan dengan orang asing melalui chatting. Tidak sebatas itu, peluang untuk jatuh cinta di chatting juga terbuka lebar.
Kadang memang aneh syndrome chatting ini, dari kumpulan kata, kalimat ungkapan yang mereka ketik lewat chat atau email bisa membuat orang tertawa, menangis, bingung, senyum-senyum tidak jelas, dan kadang depresi berat.
Tapi itulah faktanya, mereka kadang tidak menggunakan akal sehatnya untuk memahami fenomena tersebut
Temen gue aja putus gara-gara kecantol ama temen chatnya dan meninggalkan kekasihnya yang sudah beberapa tahun nemenin dia. Bagi anak sekolah ada juga yang meninggalkan jam-jam sekolah dan bagi pekerja kantor sering menomorduakan pekerjaan dan mementingkan chatting (baca:termasuk gue…xixixi). Dan yang lebih ironisnya, ada yang berselingkuh dari isteri dan menelantarkan anaknya demi kesenangan maya seperti itu. How comes???
Kata-kata kadang membuat sesorang bisa memahami sisi dari human itu sendiri. Jadi bisa saja dari kata-kata tersebut timbulah perasaan nyaman, kagum dan akhirnya jatuh cinta.ihirrrrr…….asoyyyyyy
Words is like a magic, can make someone to be strange or freak
Ada temen gue yang chat ampe ngakak-ngakak
Ada yang ampe melototin computer serasa tu orang lagi didepannya
Ada juga yang nangis di depan monitor
Sungguh mengenaskan nasib sang monitor itu.xixixi
Tapi itulah fakta kawan…
Sering mereka, si pelaku chatting menyembunyikan identitas atau memanipulasi identitas tapi ada juga yang jujur tentang semua hal ke teman chatnya tersebut.
Dari fakta dan fenomena tersebut ada juga yang sampai di pelaminan alias nikah..asikk
Ini bukan omong kosong belaka, karena saksi hidup adalah tetangga gue yang menikah dengan orang yang tidak dikenalnya. Bukan teman TK, SD, SMP, SMA atau teman lainnya. Mereka bertemu dari dunia maya tersebut dan akhinya dengan waktu 3 bulan mereka memantapkan diri untuk langsung menikah.
Sungguh luar biasa kekuatan kata-kata…
Chatting, fb, twitter, blog, etc hanyalah sarana
Tak semua maya adalah kepalsuan atau negatif
Ada juga sisi positif dari maya
dari maya kita menemukan informasi, pertemanan dan juga persaudaraan
dan di maya pula kadang kita akan menemukan CINTA  (ihirr…………)
Selanjutnya...

Bungkusan Busuk Masa Lalu

13025038521830043834

Dia menemukan bungkusan yang tersimpan di dalam lemari rahasiaku
“Aku ingin melihat isinya” pintanya dengan lirih

Aku takut untuk membukannya
Tapi ini harus di buka
Dalam bingkisan busuk itu ku berteriak pada Tuhan
Apakah ini waktunya aku membukannya dan memperlihatkannya?

Aku mencoba membuka bingkisan dari masa lalu itu dengan dia
” Sayang…aku ingin membukanya, mungkin sudah waktunya” ujarku
” Bukalah dan telanjangilah bungkusan itu” ucapnya

Dia memelukku dan membiarkanku membukanya sendirian
” Apa kamu sudah siap sayang, karena ini terlalu busuk untuk kau ketahui ” tanyaku
” Aku tetap akan menegarkanmu seberapa busuknya bingkisan itu aku akan tetap disini untukmu”

Aku buka pelan pelan

Aku menelanjangi bungkus itu

Pita kepedihan telah ku tanggalkan

Bungkus putih bersih kedok trauma sudah ku cabik

Kardus busuk kuat yang membelenggu telah terkoyak

Inilah sayang isi bungkusan busuk masa laluku

Apakah kau menyesal sudah mengetahui isinya?

Apakah kau masih mencintaiku?

Hening
Diam
Tak ada jawaban
Selanjutnya...

Hallo…Om… Mau?

1305090026791048885
Hai…Nama gue Kayla. Gue salah satu mahasiswa di salah satu universitas di Ibukota. Namanya juga hidup di ibukota…yah…loe tau sendiri kan tuntutan hidup disana. tuntutan hidup tinggi, biaya hidup juga selangit. Tapi gue gak khawatir tentang perekonomian di negara ini. Entah Presidennya siapa, entah Mentrinya siapa gak ngaruh tuh buat hidup gue.
Selain menjadi mahasiswa, gue juga punya kesibukan lain. Jualan dijalanan… Yups you’re right. Gue jualan jasa. Orang-orang seh nyebutnya “PSK”. Tau sendiri di mata mereka pekerjaan gue adalah pekerjaan hina. Yah…terserah dah mereka mau bilang apa yang penting gue bisa makan tanpa ngemis dari orangtua.
Setiap hari gue bisa melayani 3 sampai 5 pelanggan. Tentu saja short time. Penghasilan yang bisa gue hasilkan sekitar 1 juta hingga 2 juta setiap harinya. Secara gue hidup disini sendiri. Penghasilan segitu lebih dari cukuplah. Gue heran dengan Pak Presiden dengan gaji segitu di bilang tidak cukup. Padahal kerjanya gak begitu berkeringat, gak butuh lenguhan nafas, gak khawatir dengan penyakit kelamin. gue gak malu kok dengan pekerjaan ini, kenapa harus malu. Lha wong Pak Dewan aja gak malu, liat bokep dengan layar segede gabon gitu…
Banyak orang bertanya, kenapa gue jadi seperti ini. Ya gak munafiklah. Gue butuh duit dan gak ada orang yang peduli. Ayah sibuk dengan bisnisnya dan kadang gak malu membawa wanita jalang pulang kerumah, dan memamerkannya kepada mama. Mama pun gak kalah saing donk. Di pamerkannya brondong cakep mungkin ya seumuran dengan gue lah. Tapi mereka menikmati kehidupan seperti ini dan melupakanku, anak kandungnya sendiri. Kenapa gue harus ruwet mikirin hidup gue yang menjabat sebagai mahasiswa sekaligus bintang jalanan. Mereka tau profesi gue, dan mereka juga no comment .Simple kan?
Aneh menurut mereka. Gak kok biasa aja menurut kita.
Dunia semakin gila. Gak kok kita gak merasakan kegilaan itu.
Dosa…. Gue aja tidak percaya dosa. Normal kok…
Yang ada di otak gue hanya duit untuk makan untuk hidupku. Sendiri!
Mencari Om-Om di keramaian
Berdandan, sambil menawarkan diri…Hallo… Om… Mau???
*******
Coretan gila sambil ngupil
Selanjutnya...

Kredit WC Bayar dengan Beras

13057097818536288


Hidup sehat bukan berarti kita hanya mengkonsumsi makanan yang bergizi, tetapi juga harus menjaga kebersihan di lingkungan sekitar. Sering kita jumpai daerah yang kumuh penuh dengan sampah jauh dari kata bersih. Banyak penyakit-penyakit yang tidak kita sadari seperti bakteri yang kembanyakan terjadi akibat kontaminasi tanah dan air.
Supaya terhindar dari beberapa penyakit seperti diare, kolera atau penyakit yang di sebabkan oleh cacing, untuk itu kita harus benar-benar mewaspadainya. Penyakit tersebut dating karena kurangnya kebersihan sekitar teruma dalam pembuangan tinja.
Pembuangan tinja manusia yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan pencemaran terhadap permukaan tanah serta air tanah yang berpotensi menjadi penyebab timbulnya penularan berbagai macam penyakit saluran pencernaan (Soeparman, 2002).
Di bantaran sungai di sepanjang Demak dan Sayung Semarang, sering kita jumpai banyak orang yang mencuci pakaian, perlengkapan memasak, mandi dan buang air besar di sungai tersebut. Sungguh miris melihat fenomena tersebut. Kemungkinan faktor yang mendasari terjadinya fenomena tersebut adalah
1. Kebiasan masyarakat sekitar
2. Minimnya informasi tentang kebersihan dan kesehatan
3. Sulitnya membangun sarana MCK di daerah tersebut yang di sebabkan faktor ekonomi warga sekitar
Sempat saya melihat salah satu program televisi yang sangat bermanfaat. Salah satu desa terpencil di daerah Jawa Barat, banyak masyarakat yang membuang hajat di sekitar kebun atau membungkusnya dengan kantong plastik. Akibatnya banyak warga yang rentan terhadap berbagai penyakit. Faktor ekonomi lah yang membuat mereka enggan untuk membuat WC.
“Untuk makan saja susah, bagaimana untuk membuat WC?” komentar salah satu warga
Dari situlah sekelompok ibu-ibu membuat suatu program Kredit WC. Karena mayoritas masyarakat di desa tersebut adalah petani maka mereka mencanangkan program Kredit WC dengan pembayaran beras dari hasil panen mereka.
Masyarakat diperbolehkan untuk Kredit WC dengan membayar 2 liter beras setiap minggunya dan akan berakhir pada bulan ke 10. Pada bulan ke 10 , warga tersebut langsung akan di buatkan WC karena sudah melunasi pembayaran beras. Dari sinilah masyarakat merasa terbantu dalam pembuatan WC pribadi. Semoga program ini bisa di aplikasikan oleh seluruh warga yang mengalami permasalahan dalam MCK. Banyak cara untuk membantu masyarakat. Mari hidup sehat!
Selanjutnya...

Pembalasan

131118060512520783
Wajah Iin aiy-aiy sontak berubah menjadi merah. Dia tidak menyangka Bowo bisa berkata seperti itu padanya.
“Ah… Gue yakin Bowo gak serius suka sama Devi. Jelas-jelas sudah hampir lima bulan terakhir dia ngejar-ngejar gue sampe terkencing-kencing. Ah… Bowo bersandiwara aku yakin. Kalau Bowo sama si Devi, terus yang ngejar-ngejar gue siapa lagi donk? Walaupun si Bowo gak ganteng-ganteng amat tapi lumayan dari dia gue dapet foto-foto gratis!hehe…. Ah..jangan-jangan si Devi pake pelet, gue tahu dia kan peracik  Jamu Sehat Sentosa Bahagia Sejahtera, gak menutup kemungkinan dia juga buat jamu pelet si Bowo biar klepek-klepek sama dia”
Di malam yang sudah tidak lagi malam karena menunjukkan pukul 2 dini hari, Iin merencanakan sesuatu untuk menyelidiki tindak tanduk si Devi dan Bowo
“Awas Loe wo’ gue bakal bikin loe dapat balesan! Pertama-tama gue bakal nyelidikin apakah bener Devi pake Pelet di jamunya.”
Keesokan paginya Iin mengintip dari bilik dapur Pak RT Ibay. Ada celah kecil yang membuatnya mudah untuk melihat sekeliling dapur. Akhirnya Iin melihat Devi masuk dapur dengan membawa beberapa rempah, kunyit dan beberapa bahan untuk membuat jamu semunya normal tidak ada jampi-jampi kembang tujuh rupa dan lain-lain. Tiba-tiba pandangan Iin tertutup oleh sesuatu
“Ah…sial..apaan neh, gue kagak bisa ngintip…” Iin menerka-nerka sosok apakah yang menutup pandangannya. Tak tahunya perut Pak RT yang megah di umbar kemana-mana. Posisi dapur dan kamar mandi bersebelahan. hanya di sekat oleh anyaman bambu. Celah buat ngintip dekat dengan kamar mandi.  Disitu Pak RT Ibay mengelus-elus perutnya bernyanyi-nyanyi dengan riang gembira beserta boneka bebeknya.
“Ah..gue kagak nyangka si Pak RT mandi ditemani bebek kuning. So sweet….” Akhirnya Iin menghentikan pengintaiannya karena tidak ingin mengambil resiko matanya bintitan 2 biji gara-gara melihat Pak RT mandi.
“ah… Aku harus masuk ke rumah Devi sekarang, sebelum dia mengantarkan jamu ke Bowo. Gue tahu setiap hari jam 7 Bowo akan datang mengambil jamu sehat perkasa yang di ramu oleh Devi”
Akhirnya Iin memutuskan untuk masuk dan sedikit berbasa basi
“Hallo Bunda Selsa…”
“Hey..Iin.. Tumben banget nduk pagi-pagi kesini.”
“Iya Bun.. ini mau beli jamu rapet wangi”
“Itu Devi di dalam. Coba masuk saja di dapur”
“Makasih bun”
Akhirnya Iin memasuki dapur dan melihat Devi sedang membuatkan segelas jamu untuk Bowo.
“Vi, buatin jamu rapet wangi donk, segelas aja”
“Iya In bentar yak, ini aku ngeracik dulu pesenan si Bowo”
“Aku bantu Dev kalau begitu”
“Oh… Makasih in, tinggal nambahin madu aja, aku ambil madu dulu di almari depan”
Devi meninggalkan Iin di dapur. Iin mengeluarkan sebungkus obat serbuk putih yang sudah dia siapkan tadi pagi buta, obat tersebut diracik sendiri dari beberapa bahan yaitu merica, bubuk cabe busuk, garam, gula dan sedikit remahan kotoran tokek. Dia tuangkan serbuk obat ke dalam gelas Bowo dan langsung mengaduknya dengan cepat sebelum Devi melihatnya
“Rasain loe wo…Segerrrrrrrrrrr”
Obat yang dimasukkan Iin adalah obat racikan maha dahsyat. Iin yakin,  setelah Bowo meminum jamu tersebut selama 7 hari 7 malam kentut Bowo bakal lancar tanpa hambatan dan busuk tak terkira. Alhasil semua orang menjauhinya selama 7 hari, termasuk Devi pujaan hatinya.
“Ini pembalasan bukan karena gue cemburu ma Devi tapi ini pembalasan bagi orang-orang yang kepedean kayak loe wo,” kata Iin sambil tersenyum riang gembira.
****Pelajaran yang bisa diambil “Jangan mudah kepedean”, “Dilarang kepedean di sengaja ataupu tidak disengaja”, “Kepedean dapat menimbulkan diare”…wkakakkakaka
***
saya sudah penuhi tantangan saudara Bowo untuk meneruskan cerita ECR edisi ke 3….
wkakakkakakka…………………..
Selanjutnya...

Diary Gadis Kecil untuk Tuhan

130206501632877814


Tuhanku sayang….
Hari ini Ayah memarahiku lagi
Ayah meneriakiku sampai telingaku sakit
Tadi aku mengintip waktu Ayah pulang
Beliau pulang dengan sempoyongan
Aku temukan sebotol minuman yang mirip air teh tapi berbau tidak enak
Aku pecahkan saja botol dan gelasnya
Pyar…..
Ayah terbangun dari kursi dan memelototiku
Ah… Aku kena tamparan tangan kekar Ayah
Tapi tidak apa-apa… Aku tidak menangis kok Tuhan
Karena aku tahu jika aku menangis Ibu akan keluar membelaku
Dan Ibu pasti kena pukul Ayah seperti tempo hari
Wajah Ibu yang putih cantik ternoda akibat pukulan ayah
Aku tidak tega melihat ibu sakit lagi
Aku tidak tega melihat Ayah seperti itu tiap malam
Tuhan….. Jauhkanlah minuman itu dari Ayah ya…
Selanjutnya...

Bianglala


Dimana sekarang posisi kita berada Ma?…
Kalau menurutmu dimana?
Sepertinya di posisi paling bawah
Kau tahu kalau bianglala ini akan bergerak kan sayang?
Iya aku tahu, kalau tidak bergerak kenapa aku naik
Benar, rasakan perlahan kau akan naik dan pasti akan turun
Butuh berapa lama aku bisa naik, Ma?
Sabar dalam tempatmu, dengan perlahan lajunya akan membawamu keatas
Pemandangannya indah ya Ma…
Jangan khawatir dimanapun posisimu, kau akan mendapatkan keindahan berbeda pula sayang
Selanjutnya...

Traumaku

13031974221063427703
Dinginnya malam ini seperti menusuk sampai ke hatiku. Aku tidak sanggup berteriak karena aku takut. Aku takut budhe bangun dan mendengar teriakanku. Aku benar-benar takut…
Lama kelamaan tangan itu menjalar di pahaku, tangan dingin kekar itu mengelus-elus pahaku. Aku memejamkan mata pura-pura tertidur dan bersandiwara pada diriku sendiri kalau aku tidak merasakan elusan tangan kasar itu. Deru nafas terengah-engahnya juga terdengar di malam itu. Begitu keras menurutku. Kenapa mereka tidak bangun dan mendengarnya. Padahal tempat tidurku tak jauh dari mereka. Aku ingin berteriak karena tangan kasar itu semakin keras mencengkram pundakku. Dan tekanan di bawah pinggangku itu semakin keras. Sakit. aku merasakan cairan berlendir menempel ditubuhku. Kenapa pria biadab itu tega melakukannya. Aku sampai takut untuk bergerak dan membuka mata. Aku butuh tangan ayah untuk menghajar pria biadab ini. Aku butuh pelukan ibu.
****
“Perempuan penipu, aku kira kau wanita suci yang selalu menjaga kehormatan. Kenapa kau tega mengkhianati suamimu ini! Kenapa kau tidak jujur kepadaku!” teriaknya dengan keras
Aku hanya diam dan tertunduk dengan mengapit selimut putih bersih tanpa darah perawan yang tercecer. Aku membisu dalam malam dimana aku dan suamiku menikmati indahnya kecupan dan pelukan setelah lelah resepsi  seharian tadi.
“Kenapa kau tidak pernah jujur sayang, kalau kau sudah tidak perawan! Dengan siapa kau melakukannya! Aku jijik denganmu!” teriaknya seperti orang kesetanan tak terkontrol.
Nafasnya terengah-engah karena emosi yang meluap tanpa batas.
Akhirnya dia mereda. Diangkatnya daguku dan ditatapnya wajahku dengan penuh air mata. Dengan lembut di singkirkan rambut yang menutup wajahku.
” Sayang…aku mencintaimu dengan seluruh kesederhanaanmu, keluguanmu dan kebaikanmu. Dan aku kecewa dengan kenyataan ini. Kenapa kau tidak bilang dari awal” tanyanya rendah menahan amarah.
” Aku tidak ingin menyakiti perasaanmu, aku begitu takut untuk menceritakan semuanya.”
“Sekarang kau bisa cerita. Aku akan menerima apapun itu. Maaf jika aku terlalu kasar padamu sayang”
Dikecupnya keningku. Peluh amarah masih terasa dan degup jantung yang membara masih bisa kurasakan dalam pelukan itu.
“Aku tidak ingin menceritakannya karena aku tidak ingin kejujuranku menyakiti perasaan yang lainnya”
” Maksud kamu bagaimana?”
“Orangtuaku juga tidak mengetahui hal ini. Siapapun tidak ada yang tahu kecuali aku dan dia”
” Dia siapa?’
” Suami budhe”
” Maksudmu?”
” Waktu itu umurku 10 tahun. Dengan biadab dia meniduriku saat aku berkunjung ke budhe. Aku takut untuk cerita”
” Kenapa sayang kau tidak cerita? Biadab sekali! Tadi saat resepsi dia datang dengan muka manis dan memberikan selamat! Bajingan dia!”
“Aku trauma, aku takut… Jika aku cerita pada budhe, pasti mereka akan bercerai. Kau tahu kan kedua anaknya begitu dekat denganku. Aku tidak tega melihat mereka sengsara karena keegoisanku mengungkapkan segalanya. Waktu sudah tidak bisa kembali. Yang aku pinta, maafkanlah aku. Jaga rahasia ini dan jadilah suami yang bisa melindungiku dari ketertekanan mentalku ini.”
Di malam ini,  pertama kalinya aku menyaksikan suamiku menangis tersedu dan memelukku begitu kuat dan hangat
” Aku mencintaimu istriku, maafkan aku”
Selanjutnya...

Kembali (Kolab)

13057945131201300224
Bila kuingat panjang rambutmu,
Indah terurai menjuntai di bahu..
Sontak hatiku bergemuruh tak tentu,
Apakah ini tandanya bahwa aku rindu?
Katakan padaku, benarkah itu…
Atau hanya kerdil jiwaku yang malu

Hadapi eloknya parasmu..
Ketika ku ingat sopan sapamu,
Ingin rasanya kakiku segera berlari ke rumahmu,
Tapi, benarkah ini semua tentangmu?
Atau hanya kerdil jiwaku yang gagu..
Bisikkanlah padaku oh kasihku…

Elok jiwa dan pribadimu..
Rancak kaki dan teguh pendirianmu
Tanpa perlu basa-basi dan malu,
Esok hari nanti pasti ku kan tahu,
Masihkah kesendirian itu untukku
Usah kau ragu..

Aku tak meragu sayangku 
Aku mendamba rindu ini
Begitu tersiksa tapi ku menikmatinya

Tahu kah kau 
Aku berharap pada asa yang telah mati
Kau hadir lalu beranjak pergi
Kemana kau setelah purnama ke tiga belas
aku disini memelas

Menantimu
Hanya kenangan wajah di otak
Ya…Sesekali ingin ku beranjak
Tapi ku tak bisa
Cepatlah kembali, aku menunggumu disini
Selanjutnya...

[MPK] Rindu-rindu Merpati

1307696026755269645
Seperti doa yang aku ucapkan tadi malam, hari ini aku menjadi seekor Merpati yang berwarna hitam dihampir seluruh tubuhku. Sedangkan warna putih terselip pada ujung bulu sayapku dan juga bagian kepalaku. Dengan warna mata yang juga hitam, aku melesat ke angkasa. Sesaat mendapati tubuhku pagi ini telah berubah, meninggalkan rutinitas hidup yang begitu membosankan. Aku ingin terbang bebas kemanapun aku ingin. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajah dan bulu-bulu di seluruh tubuhku. Memandang dunia yang luas ini, menjadikannya terlihat begitu kecil.
Awalnya, aku mencoba seberapa jauh jarak yang bisa aku tempuh dalam setiap kepakan sayapku. Dan ternyata, lebih cepat dibandingkan melangkahkan kaki dengan berjalan. Aku berputar-putar mengelilingi tempat tinggalku, lalu menukik tajam dan seketika melebarkan sayap dengan kepakan cepat untuk berhenti dan bertengger di atap rumahku. Sungguh menakjubkan!
Kini aku terbang jauh menyusuri jalan-jalan yang aku kenal. Panas matahari begitu dekat, begitu terasa terik sinarnya. Hingga mampu membuatku merasakan lelah dengan cepat. Lalu berhenti sejenak di sebuah taman. Membasahi tenggorokanku dengan air kolam. Lalu hinggap diatas ranting pohon besar. Memandang sekitar… Lalu teringat kilasan masa lalu ditaman itu.
Kau tahu mengapa aku begitu ingin menjadi merpati hari ini? Selain karena bosan dengan rutinitas kehidupan yang aku jalani. Sebuah kerinduan membawa inginku untuk bisa sekedar mengenang kisah-kisah masa lalu yang hampir terlupakan. Apakah kau pernah merasakan kerinduan seperti itu? seperti itulah yang aku rasa saat ini.
Betapa kabar begitu ingin aku dengar tentang mereka yang pernah mengisi dan menggoreskan banyak kenangan dalam cerita hidupku. Kabar yang merupakan kumpulan tanya tentang kenangan itu.Bagaimana kabarnya? Jadi apa sekarang? Dengan siapa sekarang? Seperti apa rupanya sekarang? Dan masih banyak tanya yang mengantarkan doaku tadi malam.
Seperti di taman ini, ketika dulu aku selalu menikmati angin yang berhembus lembut di saat waktu sore mulai datang. Bersama seseorang yang begitu berarti bagi hatiku. Sekedar mengurai banyak cerita dalam percakapan, lalu diselang candaan yang menghadirkan gelak tawa dan senyuman. Sesekali terjebak dalam merona merah pipi. Diam. Tersipu. Kikuk. Sampai saat tangan saling menggenggam erat, seketika satu kecup terlepaskan. Ah, aku rindu sosok itu.
Beruntung Tuhan mengambulkan doaku tadi malam. Segera aku kepakkan lagi sayap untuk terbang menuju tempat dimana aku bisa memenuhi tanyaku akan dirinya. Semoga masih bisa aku dapati dirinya disana.
Sebelum langit menjadi kemerahan, bersusah payah ku kepak sayap ini menuju kerinduanku yang tertahan. Berharap cemas pada asa masa laluku. Dalam setiap kepakan sayapku, terbayang jelas sosok masa lalu yang ingin ku temui. Ah… aku tidak sabar bertemu dengannya. Beberapa menit lagi aku sampai ke sana, ingin segera aku melihat sosok itu. Semakin cepat ku kepakkan sayap. Dan berharap pada Tuhan, semoga kembaliku ini menjadi awal atas episode hidup terindahku selanjutnya.
Pandanganku tertuju pada satu tempat yang begitu aku kenal. Segera aku menukik turun, mendaratkan tubuhku pada tempat yang paling bisa melihat keadaan sekitar. Ya, sebuah kabel listrik yang berada tepat di depan rumah itu sepertinya tempat yang paling strategis untuk melihat dan memenuhi rasa rinduku pada sosok itu. Tidak berapa lama menunggu…
Ah.. akhirnya aku melihat punggung sosok yang kurindu itu. Tapi…hei, siapa yang berada disampingnya? Kenapa mereka berpelukan? Mereka melepas tawa dan sentilan manja di kening. Kecupan? Kecupan itu harusnya milikku! bukan untuknya! Ingin rasanya berteriak dan menghampiri. Tapi dalam wujud seperti ini? Aku tak tahu bagaimana menjelaskan semua, kenapa juga aku harus marah? Biarlah aku tetap disini, mengawasi mereka tak lepas pandang. Aku masih tidak menyangka apa yang ada dihadapanku. Kenapa benda di sebelah rongga dadaku sebelah kiri tiba-tiba sakit? Begitu menyesakkan aku rasa. Aku mencoba menarik nafas panjang agar nyeri ini hilang. Tapi sepertinya tidak berarti, perih itu masih ku rasa. Angin segar beserta embun pagi masuk di relung setiap kepak sayapku tidak cukup mampu menghalau hawa panas ini.
Kepalaku di penuhi banyak tanya yang ingin segera terjawab. Siapakah orang yang berada disampingnya itu? Apakah mereka benar-benar bahagia seperti yang tertangkap dalam pandangan mataku ini? Apakah aku harus kembali dan menampakkan sosokku di hadapan mereka? Entahlah…
Sepertinya aku mendapat karma atas masa laluku. Sekarang tokohku adalah tokohnya pada dua tahun silam. Sungguh aku terlalu egois, jika aku marah atas kemesraan mereka. Sungguh aku terlalu naïf, jika mengharap dia kembali dalam pelukanku. Tapi sungguh ini menyakitkan Tuhan…
Akhirnya aku putuskan untuk pulang. Tak terasa aku terlalu jauh terbang ke belakang, mengais kenangan dan membuatnya seolah nyata lagi. Namun semua tak terwujud. Aku meninggalkan dua sosok menyakitkan itu, dan dengan susah aku kepakkan sayap untuk kembali dalam sisa tenagaku. Perjalanan panjang sudah menanti di hadapanku. Inilah yang harus aku terima ketika memutuskan untuk kembali pada masa lalu.
Angin kembali terasa menerpa wajah dan tubuhku, semua kembali terlihat kecil dalam pandangan mataku. Dalam setiap kepakan, selintas bayangan senantiasa datang memenuhi isi kepalaku. Kenapa aku tidak bersyukur atas yang aku punya? Kenapa aku harus menjadikan serpihan kayu berubah menjadi pohon yang kokoh? Pastilah tidak mungkin, semua telah berlalu. Aku merindukan pulang…
Berusaha aku terbang untuk mencapai pulang. Pulang… satu kata yang benar-benar memaksa sayapku bergerak walaupun angin memaksaku untuk berhenti sejenak karena aku tidak ingin mati sebelum pulang. Aku berhenti bukan untuk kalah, aku berhenti untuk mencurangi angin penghalang kepakku.
Ah… akhirnya aku sudah kembali. Aku melihat tempat itu. Ingin segera ku cepatkan kepakanku. Aku sudah tidak sabar ingin menenggak air segar yang telah dia siapkan. Pasti sekarang dia merindukanku… Semoga dia benar-benar merindukanku.
Nah.. Itu dia… Aku sudah meihat punggung yang tak asing di mataku. Ingin sekali ku memeluk punggung itu sekarang. Tapi, masih pantas kah aku memeluk punggung itu? Perasaan bersalah menyeruak hebat di hatiku. Teganya diriku meninggalkan pemilik punggung itu. Padahal dia yang selalu menemaniku, dia yang selalu mengobati sayapku yang terluka. Dia yang selalu memberikan senyuman dan pelukan hangat saat amarah menguasai diriku.
Aku pelankan kepakan sayap ini. Aku masih belum berani untuk menemuinya langsung. Aku harus mengambil nafas panjang biar rongga dadaku berisi udara segar. Aku tidak ingin melihatku dalam keadaan kacau. Jangan sampai aku membuatnya khawatir.
Aku tertunduk diatas ranting pohon tua sembari mengatur nafas untuk bertemu dengannya. Ah… Dia mengetahui keberadaanku. Dia mendongah dan menatapku dengan tajam berbalut cemas. Tanpa ragu dia menghampiriku, pelukan hangat ku terima di senja ini. Terasa hembus nafasnya memburu di telingaku, detak jantungnya berdetak sangat cepat, dia mengelap peluh yang menetes di dahinya.
“Aku mencarimu sayang, jangan terbang terlalu jauh. Aku merindukanmu”
Penulis No. 30: Desyach & Iin Aiy-aiy
Selanjutnya...

Selamat Tinggal Sayang

Getir… Saat aku beranjak memunggunginya,teriring suara musik memecahkan suasana di ruang dan sama sekali tidak bisa mengecohkan kesedihanku saat ini. Berkali-kali dia memanggil namaku, tapi aku rasakan leher ini kaku untuk menoleh, tak dapat u pingkiri jika hatiku serasa ingin berlari merengkuh tubuh itu.
“Gue mohon, jangan tinggalin gue sendirian” rajuknya
Sayang… Sebenarnya aku juga tidak kuasa meninggalkanmu dalam hati ku meronta. Aku sama sakitnya saat ini, ku teruskan langkahku, ku tulikan telingaku. Tiba-tiba pelukan erat hangat menahan langkah gontaiku. Aku terdiam dalam hangat pelukan di punggungku, terdengar degup jantung tak beraturan dengan tangis yang begitu menyedihkan. Serasa aku ingin memalingkan tubuhku dan memeluk erat tubuhnya.
“Gue bakal mati kalo loe ninggalin gue! Sumpah say, gue kagak bisa hidup tanpa loe”
Aku terdiam dalam tangis. Aku tidak kuasa membayangkan kehilangan dia. Aku tidak tega. Akhirnya aku beranikan melihat wajahnya, aku tajamkan mataku dan menegaskan bahawa aku ingin mengakhirinya.
“Gue cinta loe…tapi..” ucapku terhenti seketika, terkunci ciuman nafsunya secara tiba-tiba. Aku rasakan bibirku hangat dan sedikit rasa asin berbaur air matanya. Lidahnya liar menggeliat di mulutku. Aneh… Aku sama sekali tidak menikmati percumbuan ini seperti sebelumnya.
“Tolong berhenti” aku mencoba menghentikan luapan cintanya. Tangannya begitu erat menahan wajahku untuk berpaling dari bibirnya. Dia menggila dalam nafsunya, sedangkan aku tak berdaya menahan kesedihan melihat tingkah polahnya.
Akhirnya dia menghentikan ciumannya karena sadar sama sekali aku tak merespon pagut bibirnya.
“Apa salah gue? Kenapa kita harus berpisah?”
“Maaf… Gue gak bisa nerusin kisah ini. Kita gak mungkin bisa bersama selamanya”
“Ah… Persetan dengan omonganmu! Gue sayang loe… Kita bisa hidup bersama selamamnya. Loe gak usah khawatir. Gue bakal buat loe bahagia, gue gak bisa hidup tanpa loe”
“Tenangkan dirimu… Gue gak ninggalin loe.. Gue akan tetep ada buat loe. Percaya! Gue akan selalu nemenin loe dalam keadaan apapun. Gue bakal tetep anggep loe sahabat!”
“ Gue gak bisa hidup tanpa loe… Gue serasa pincang tanpa loe, loe yang buat semuanya begitu sempurna”
Aku berhenti sejenak untuk mengatur emosiku. Aku tahu dia pasti terguncang dengan keputusan sepihakku yang tiba-tiba aku lontarkan.
“Gue cinta orang lain”
Seketika mata indahnya berubah menjadi merah penuh amarah. Satu tamparan keras langsung mendarat di pipiku…
“Fera!!… Gue gak nyangka loe setega itu ma gue! Teriaknya sambil mendorong tubuhku tersungkur tak berdaya. Aku terus menangis bukan karena aku sakit menerima perlakuan kasarnya. Aku menangis karena aku menyakiti rang yang sangat aku cintai.
“aku mencintai Iwan… Dan aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini”
Wanita itu akhirnya berlari dengan tangisnya. Aku hanya bisa memandang tubuh indahnya perlahan menjauhiku. Maaf Jihan…Aku harus meninggalkanmu, kau tetap wanita tercantik yang pernah ku miliki. Aku akan selalu merindukanmu…
Selanjutnya...

Akhir yang Terakhir


Bangsal putih. Aku mencium bau menyengat obat-obatan. Ah, aku membenci tempat ini. Sungguh! Yang tercium oleh indraku hanyalah tangisan pilu dan juga kematian. Entahlah, aku sudah merasa muak dengan tempat ini. Kenapa aku harus kembali ke tempat ini?
“Selamat siang, Alya.” Suster Nena menyapaku dengan senyumnya yang khas, lesung pipit sebelah kanan menambah kecantikan wanita ini.
“Pagi, Suster. Wah..tumben sumringah banget. Hayoo…, abis didatengin cowoknya, ya, tadi malem?”Godaku kepadanya. Aku cukup dekat dengan suster Nena karena umur kami terpaut sekitara 4 tahun. Perawakannya yang kecil dan putih, memanipulasi usia sebenarnya.
“Ah, bisa aja, Mbak Alya” jawabnya malu-malu, sambil memberikan pil yang harus aku telan di pagi ini.
“Hayoo..,benar kan? Kapan, nih, undangannya? Sama siapa, Sus? Dokter Fandy, yah?”
“Gak kok, Mbak. Nanti aja saya kenalkan. Lho, Mbak. Kok, sendirian? Orang tuanya kemana? Dan Pacarnya mana, nih..? Perasaan dari dulu gak pernah dijenguk pacarnya.”Celetuk Suster Nena.
Ah, kenapa dia bertanya seperti itu? Ada perasaan sedih mencuat. Hanya helaan nafas panjang yang keluar dari mulutku sebagai jawaban.
“Lho, kenapa, Mbak?”
“Gak papa kok, Sus. Ini… obat yang harus saya minum yang mana saja nanti, Sus?.”Aku mencoba mengalihkan pertanyaan suster Nena. Aku tidak ingin dia bertanya terlalu jauh tentang semuanya. Walaupun Suster Nena benar, bahwa aku membutuhkan lelaki itu saat ini. Aku butuh senyuman dan candaannya yang tolol itu. Ah, aku merindukan dia saat ini, Tuhan.
Pikiranku langsung melayang pada kejadian beberapa waktu yang lalupada sosok lelakiku.
“Besok ke Semarang ya, Say. Dari hari selasa sampai sabtu.hehe…” ucapku manja.
‘Gila! aku bisanya cuma sehari atau dua hari, doang. Lagi pula aku masih ada urusan bayar kuliah di kampus dan lainnya, Say.”
Seketika aku kecewa mendengar jawaban penolakan darinya. Kami bertemu hanya sebulan sekali. Ingin rasanya aku bercerita kepadanya tentang penyakit yang kuderita. Dan minggu depan, aku menjalani serangkaian perawatan yang menyakitkan. Ah, aku urung untuk menceritakan kepadanya. Karena aku tahu, kuliah adalah prioritas utamannya sekarang. Aku tidak akan memojokkan dirinya dengan pengakuan dan pilihan ini. Pasti dia akan merasa khawatir, jika seandainya tahu yang sebenarnya. Jujur, dalam keegoisanku, aku ingin dia memenuhi permintaanku untuk pergi bersama ke Semarang. Karena saat ini, kehadirannya aku butuhkan. Tapi.. ya, sudahlah , ini juga demi kebaikan dirinya.
Lamunanku buyar oleh suara suster Nena yang tiba-tiba.
“Mbak Alya, nanti jam 10, ya?!”serunya kepadaku.
“Siap! Suster cantik. Sejam lagi, kan? Oke!”
Suster Nena tersenyum, lalu meninggalkanku sendirian di bangsal ini. Iseng-iseng kubuka salah satu akun jejaringku.
Aku lihat pada dinding akunnya. Sebenarnya ini hanya untuk menghalau perasaan rindu dalam kesepianku. Tapi… hatiku serasa kacau! Ada beberapa tulisan yang dia sebar. Tulisan itu adalah tulisan dari salah satu teman wanitanya. Wanita yang sempat membuatku bertengkar dan merasa cemburu, atas pesan-pesa singkat yang dia kirim ke ponsel lelakiku. Banyak perhatian yang dia lontarkan. Dan jelas-jelas dia tahu bahwa Arwan adalah lelakiku. Kalimat sms darinya tidak akan aku lupa sampai saat ini. ‘Masihkah pantas diriku mengharapkan perhatian darimu?’ Sakiit… sekali! Kata-kata yang membuat kepercayaanku semakin hari semakin terkikis kepada lelakiku, yang ternyata menjalin hubungan dengan dia.
Ah, kenapa aku ini? Aku harus ikhlas! Aku tidak boleh membenci mereka. Sekarang lelaki itu telah bebas, dan dia berhak memilikinya. Tidak terasa pipiku mulai basah. Tiba-tiba ada ketukan di balik pintu kamar. Aku bergegas menyeka air mataku.
“Mbak, bisa dimulai sekarang?”ternyata Suster Nena yang kembali menemuiku.
Aku menjawabnya dengan senyuman dan air mata yang tertahan dipelupuk mata.
Pelan-pelan aku dipindahkan ke suatu ruangan yang tidak ingin aku lihat setelah ini. Mataku tertuju pada peralatan yang begitu mengerikan. Akhirnya jarum suntik itu menghujam tubuhku untuk kesekian kalinya. Cairannya perih.., masuk ke seluruh peredaran darahku dengan sangat pelan. Sampai akhirnya mata ini terasa berat…Semakin berat dan… gelap.
Selanjutnya...

Jerat Pecundang


Aku takut untuk menghadapi hidup ini
Semuanya begitu pelik susah untuk diurai
Aku ingin mati saja
Tidak ada yang mengasihiku
Tidak ada yang perhatian denganku
Setiap aku bangkit, mereka selalu menertawaiku
Setiap aku merasa optimis, mereka membuatku berputus asa lagi
Aku tidak tegar
Aku ingin kasih sayang
****
Kenapa aku mengemis iba  pada mata teduh mereka?
Kenapa aku harus bersimpuh dan menunduk seperti anjing kelaparan?
Kenapa aku harus meratapi jalan Tuhan?
Sedangkal itukah otakku?
Tolol
Tak tahu berterima kasih
Dasar mental pecundang
Menjerat kewarasan menjadi ketololan
Selanjutnya...

Aku Mencintai Malamku

13037961841438385781
Sayang..tahu kah kamu kalau aku sangat mencintai malam
Lantas kenapa kau melarangku untuk keluar?
Indah menurutku
Sunyi rasaku
*
Malam tidak baik untuk tubuhmu sayang
Aku mengkhawatirkanmu atas segala resahku
Angin malam akan membuatmu lemah
*
Bukan malam seperti yang kau pikirkan
Saat semuanya terlelap ku terjaga
Aku menikmati malamku karena siangku
Siangku serasa panas
Malamku terasa tenang tanpa ketertekanan siang
Selanjutnya...

Lapar yang Nikmat

1303882595200869070
Mataku berkunang-kunang pikiranku melayang-layang
Perutku lapar, dan tubuhku jatuh tergelepar
Terngiang suara kakakku “Lapar itu bisa membuat hati dan otakmu lapang”
Tapi kini yang kurasa lapar itu begitu menyakitkan
Suaraku tertahan di ujung tenggorokan
Tak ingin ku meminta, tak ku mengharap belas kasih mereka
Sekarang yang ada hanya lapar
Lapar yang akan ku perteman dan tak akan ku sesalkan
*
Lapar yang akan menjadi teman, jangan kau sesal
Sekarang bersyukurlah atas laparmu sayang
Tak usah kau meminta mereka, tapi memintalah kepadaNya, berharaplah kasihNya
Suaramu lafaskan syukurmu
Kini akan kau rasakan longgar dalam hatimu, nikmat atas perih perutmu
Benar kata kakakmu “Lapar itu bisa membuat hati dan otakmu lapang”
Layangkanlah pikiranmu dan bandingkanlah laparmu atas mereka
Bersyukurlah, laparmu ini lebih nikmat sayang
Terinspirasi dari tulisan Wawan-samsung
***tulisan saat aku juga merasa lapar…hehehe
Selanjutnya...

Papa, The Beast Master

.
Kata si emak, papa adalah sosok pria yang gagah, sedikit bicara tapi tegas. Dibalik wajahnya yang garang kayak preman Pasar Johar (Pasar yang terkenal di Semarang) sebenarnya papa memiliki jiwa yang lembut, terutama kepada binatang. Papa gue bisa telepati dengan binatang!!! Don’t you believe it??
Pernah liat pilem The Beast Master?? Suku Sula yang bisa berbicara dan bertelepati dengan binatang.Walaupun si Papa tak setampan Marc Singer, tapi kemampuan si Papa tak jauh beda dengan si Marc. Dalam ceritanya si Dar (Marc Singer) mempunyai teman harimau yang bernama Ruh dan mereka bisa berkomunikasi lewat pikiran mereka. Amazing!
Gue, emak dan adek gue lah saksi hidup kemampuan telepati papa dengan para binatang
Banyak fenomena-fenomena yang tak lazim yang gue liat dari papa dan teman binatangnya.
Alkisah 5 taon yang lalu, entah dari mana datangnya di Lemari pakaian si Emak lahirlah 3 ekor kucing. Kagak tau itu lemari bunting kapan dan ama siape. Yang pasti sekeluarga merasa shok ngeliat 3 bayi kucing masih dalam keadaan berdarah-darah..hiiiiiiii..
Emaknya si kucing baru aja ngelairin dan masih letoy. Ih…gue ma ferry (adek gue) jijik banget. Si fery udah parno banget dengan makhluk yang kecil, merah dan berlendir..sontak tu orang langsung ambil langkah seribu sambil teriak-teriak kayak orang kesurupan bayi kucing.
But, si papa bilang “lucu banget, kacian jangan di buang”
Gue mringis ***lucu dari mane???
Setelah menjalani beberapa debat sengit antara anggota keluarga diputuskanlah bahwa si emak kucing dan anak-anaknya telah resmi di asuh oleh keluarga kami.
Dipilihlah beberapa nama untuk si kucing lemari itu..
Kucing 1: Tembong (ada tembong/tahi lalat berwarna item di anusnya nama yang sempurna).haha
Kucing 2: Belang (kucing yang bercorak putih coklat dan lebih di dominasi warna putih 90%)
Kucing 3: abang (dikutip dari kamus bahasa jawa yg artinya merah, menurut gue sebenarnya tu kucing blonde bukannya merah)
Seperti mendapatkan anak asuh baru, Papa merawat tu makhluk dengan kasih sayang. Dan si emak korban dari kecemburuan akibat romantisme papa dan ke 3 kucing lemarinya. Tiap hari si emak disuruh goreng ikan pindang buat anak asuhnya. Untung intensitas gue di rumah tak sesering emak. Gue yang pura-pura sibuk di aktifitas membuat emak jadi babu tunggal untuk para kucing lemari.
Entah si kucing belajar ilmu listening dari mana, tiap papa gue datang dengan motor buntutnya. Ketiga kucing langsung nyamperin papa.
Gue ma ferry sempet terkagum-kagum dan berencana masukin para kucing dan papa dalam ajang Believed Or Not.
Gue pingin menampilkan fenomena ini, dan yang pasti kalau bisa layak suting royalty harus buat gue dan ferry bukan buat mereka…wkakakka
Gue bakal buat judul yang fenomenal “kucing yang bisa membedakan suara motor majikannya”
Dalam angan-angan kita, para kucing gue suruh menutup mata..dan ada beberapa motor menyala disekeliling mereka sambil manggil ketiga namanya tembong, belang, abang.
Dengan mata tertutup mereka akan berlari kemajikannya yaitu “papa”
Seandainya gue translate bahasa papa ma mereka
“tembong, belang, abang, Brrmmm..brmmm” ** Papa sambil mblayer gas motor.
Para kucing: mana papa, mana papa….ah..itu suara papa..
Tembong:iya suara papa disana, aku mendengarnya
Belang: iya tembong engkau benar sekali
Abang; mari kita ke peluk papa kita
Papa: ah…anak-anakku (mereka saling berpelukan)
Dan orang-orang bertepuk tangan sambil terharu mengetahui chemestry antara mereka begitu kuat.
***imajinasi gue ma ferry
Ferry orang yang antipati ma binatang berbulu, walaupun si kucing sudah bertampang manis tapi tak bisa meluluhkan atinya..Gak pernah dia ngasih makan si kucing
Si papa seneng-seneng aja dijilatin ketiaknya kadang wajahnya ma si kucing..ih…huekk…
Loe tau ndri kan klo kucing suka jilatin anusnya sendiri dengan lidahnya…makanya gue benci dengan binatang…….
Gue dah bilang ke papa kalau mereka membawa banyak bakteri, tapi kayaknya si papa enjoy dengan para juragan bakteri itu.
Kadang papa juga ngomong sendiri
“apa??makan dulu ya..” Tanya si papa
“meong..meong (si tembong menyetujui saran papa angkatnya)”
Kadang tanpa sengaja tu kucing keinjek gue
Papa langsung marah-marah ma gue, padahal dari akte kelahiran gue lah anak kandungnya bukan mereka!!
“eemm…kacian..kamu di injak ya” kata papa sambil mengelus-elus mereka
“eemm..meuw..meuw…(iya sakit pa) sambil manja-manja ditangan papa”
Arrggghhhh……..gara-gara kehadiran sang hewan berbulu dari lemari itu kasih sayang papa terbagi-bagi..
Jam terbang keromantisan emak juga limit gara-gara belaian sang papa sering di tujukan kepada ke 3 anak angkatnya bukan kepada si emak. Ampe tidur aja si emak harus berbagi dengan mereka.
Seiring berjalannya waktu ketiga kucing tersebut hilang satu persatu dan masih menjadi teka-teki sampai sekarang.
Dari rapat yang telah kita gelar, ada beberapa kemungkinan:
1. Para kucing di ambil orang
2. Para kucing nyasar
3. Atau para kucing dibuang dengan sengaja (tersangka;emak, ferry dan gue)**pikiran papa
Selanjutnya...